NO TITTLE at JUNE 14, 2012
Beberapa kali membaca kalimat di jejaring sosial yang kurang lebih begini “Tuhan memberi yang kita butuhan, bukan yang kita inginkan”. Kira-kira apa sih yang ada di benak mereka saat menuliskan kalimat itu…???
Nah, semalem saya ngobrol dengan seorang teman deket via BBM. Sebenernya topik saya dan beliau bukan tentang kalimat di atas tapi lebih pada topik tentang pasangan hidup. Jadilah judul tulisan saya LOVE vs NEED, bukan WANT vs NEED.
Mungkin orang lain sering “menuduh” kita dan pasangan kita bukanlah pasangan yang cocok. Eh,saya dulu juga pernah nuduh seorang teman bgitu loh.Hehehe… 🙂
Tapi akhirnya saya mengerti, mengapa yang saat pacaran tampak tidak cocok, yang diprediksi saat menikah nanti bakal susah, seret rejeki dan (yang lebih sadis) dramalkan berpisah tetep kekeuh bertahan pada pilihan nya.
Menurut saya, karena memang mereka menemukan yang mereka butuhkan dalam diri pasangannya. Setiap individu pasti punya kebutuhan yang berbeda dalam pasangannya yang diharapkan nanti terkakomodasi dalam diri pasangannya tapi pastinya ga semua akan terkakomodasi. Nobody’s perfect,right…???
Teman ngobrol saya semalem, punya suami yang menurut orang dekatnya adalah “njomplang” dalam pendidikan, materi, usia bahkan suku namun beliau dengan jujur bilang bahwa suami nya adalah yang dia butuhkan, terlepas dari segala “penampakan kurang bagus” yang dilihat orang dekatnya.
Saya sendiri (akhirnya) merasa bahwa saya memilih pasangan saya lebih karena “kebutuhan” daripada sekedar cinta meski saya akui bahwa rasa cinta pasti ada. Saya pun mengalami yang teman ngobrol saya alami, orang-orang terdekat saya (yang merasa) mengenal saya beranggapan bahwa pasangan saya bukanlah orang yang nantinya bisa membuat saya bahagia.
BAHAGIA…??? Siapa yang bisa menentukan kebahagiaan saya? Bahkan orang tua saya pun tidak menjamin saya hidup bahagia jika menikah dengan orang lain. Jadi saya menciptakan definisi bahagia saya sendiri yaitu…
Selama saya merasa nyaman dengan pasangan saya dan pasangan saya bisa memenuhi kebutuhan saya maka saya menganggap diri saya bahagia. Kebutuhan yang saya maksud, bukan melulu soal materi tapi kebutuhan saya untuk mempunyai teman bercerita, sahabat berdiskusi, saudara berantem, kekasih berbagi dan tentunya suami sebagai pemimpin.
Nah, buat pasangan yang memutuskan segera menikah, (mungkin) ada baiknya bertanya lagi pada diri sendiri “Apakah saya memang membutuhkan dia?”
Tapi jangan bertanya “Apakah saya mencintai dia?” karena saya yakin Anda pasti mencintai pasangan Anda.
Selamat bertanya… 🙂
Komentar
Posting Komentar