Kehilangan, awal kemandirian at SEPTEMBER 19, 2012
Rabu, 12 September 2012, jam 7.10 pm
Saya menerima kabar duka via BBM, ayahanda teman kantor meninggal. Beliau sudah sekitar 2 minggu di rumah sakit hingga saat wafat belum sempet kembali ke rumah. Menarik buat saya tulis di blog karena saya salut banget dengan ibunda teman kantor saya. Saya memanggilnya dengan tante mama karena kebetulan kantor berada di lantai atas rumah teman saya ini.
Tante mama lah yang merawat, menyediakan segala keperluan Om bapak semasa hidupnya. Tante mama yang menyiapkan susu, obat minum, obat suntik yang haus diberikan tiap beberapa jam sekali (Om Bapak harus disuntik insulin). Tante mama masih harus masak, bersih-bersih rumah, urus anak-anak. Meski sibuk banget, Tante Mama masih sempat untuk rutin dating ke pengajian.
Setelah wafatnya Om Bapak, pengen banget bisa bertanya dengan tante Mama, apa yang beliau rasakan saat ini. Saya tahu hanyalah pasti rasa sedih dan kehilangan tapi saya tidak pernah tahu rasa lain yang dirasakan Tante Mama. Sayangnya saya tidak cukup berani bertanya kepada beliau.
Senin, 17 September 2012, 6 pm
Saya membaca Koran Jawa Pos dan focus pada sebuah artikel yang ditulis oleh Kika dengan judul “Manejemen kehilangan & … “ (Saya lupa judul seluruhnya)
Di artikel tersebut, Kika berkisah sang eyang yang mendadak rapuh setelah ditinggal wafat ayahanda Kika, yang notabene adalah putra sang eyang. Eyang mungkin siapa kehilangan tapi tidak menyiapkan manajemen kehilangan. Dan saya tersadar, betapa banyak orang di sekeliling saya yang ditinggal wafat pasangannya segera menjadi seseorang yang rapuh.
Salah saeorang yang saya kenali menjadi lebih rapuh adalah adik nenek saya. Sejak kepergian suami, beliau jadi tampak lebih tua, lebih kurus. Mungkin fisik tidak bisa dijadikan ukuran kerapuhan seseorang tapi buat saya, ada aura yang bisa dirasakan bahwa ada “kehilangan” yang tidak dapat ditoleransi oleh beliau.
Saya hanya mencoba sedikit menduga dan beranalisa dari sekian banyak pasangan yang mendadak rapuh saat ditinggal belahan jiwanya pergi selamanya. Sepertinya di masa hidupnya dulu, mereka-mereka ini adalah pasangan yang sangat bergantung satu sama lain. Dimana ada aku, pasti ada kamu; sepiring berdua; you jump, I jump… Cieee…. Hihihi, bagaikan amplop dan perangko, lengket teruuuuusss…Intinya ada ketergantungan yang sangat besar, kemana-mana pergi berdua, ,musti ditemani dan saling menemani.
Nah, tipe yang di atas beda banget dengan orang tua saya. Beliau berdua nih, mandiri banget. Seringnya bagi tugas kalau pas ada kepentingan yang bersamaan atau kalau papah ada rapat terus mamah lagi pengen ke mal, maka papah rapat dulu terus janjian ketemu di mal deh. Beliau berdua berusaha banget, tidak memaksakan sesuatu yang membuat pasangannya tidak nyaman. Daripada melakukan sesuatu dengan terpaksa malah bikin diri sendiri ga nyaman, mending lakukan sesuatu yang kamu mau, baru kemudian kita lakukan yang bikin kita berdua sama-sama nyaman.
Efek dari beliau berdua akhirnya nurun ke saya. Saya ga suka nonton, pasangan saya hobi nonton jadi… Kita sepakat cari mal yang gede dan ada XXI, pasangan saya nonton sendiri sedangkan saya jalan-jalan keliling mal, ketemu lagi di tempat makan. Fair enough kan…??? Atau kalau pasangan saya lagi pengen banget nonton ditemani saya maka dia beli 2 tiket dengan situasi dalam bioskop, dia nonton dan saya tidur! Hahahaha, yang penting kan saya udah jadi teman nonton dia.
Mungkin bagi orang lain, pasangan-pasangan seperti saya ataupun orang tua saya terlihat aneh karena tampak sendiri-sendiri, tampak “sekarep dewe”, tampak bukan sebuah kesatuan tapi selama kami merasa nyaman, tidak ada yang salah kan…? Banyak metode, cara ataupun treatment yang digunakan setiap pasangan dalam menjalani kehidupan. Semua dilakukan untuk mencapai sebuah harmoni yang memberikan kenyamanan bagi aku, kami dan kita berdua. Toh tidak ada yang salah dan benar, tidak ada yang baik ataupun buruk.
Saya sendiri merasa pola hubungan yang “tampak sendiri-sendiri” lebih bisa menjaga kemandirian setiap individu. Mandiri dan siap jika suatu saat salah seorang harus pergi. Manajemen kehilangan sudah disiapkan, dipelajari bahkan dilatih jauh hari. Hanya tinggal menjalani ketika tiba saatnya.
So… manajemen kehilangan apakah yang Anda siapkan…???
Komentar
Posting Komentar