Banyak Anak, Banyak Rejeki at JUNE 19, 2012
Sering banget mendengar orang berkata “banyak anak,banyak rejeki” atau “tiap anak punya rejeki sendiri”. Menurut Anda…???
Ijinkan saya untuk bercerita pengalaman dan pendapat saya yang (kemungkinan) subyektif. Saya tidak memaksa Anda untuk menerima ataupun menolak pendapat saya, hanya sebuah perbedaan pendapat dan cara pandang 🙂
Beberapa waktu lalu, saya mention ke twitter ke seorang teman dekat, kurang lebih begini : “orang bilang, banyak anak, banyak rejeki trus tiap anak punya rejeki sendiri. lah klo dah trlanjur ada anak trus rejeki seret,rejeki ne melu sopo?
Jujur nih, waktu saya mention beliau, saya tidak berharap open discussion ataupun menerima jawaban yang serius. Seorang adik kelas yang saya kenal memberi jawaban begini “kalo aku percaya anak punya rejekinya sendiri2, tgtg ortu bisa mengelolanya ato enggak tp krg sepaham dgn banyak anak byk rejeki.
I do agree dengan pendapat adik kelas saya ini, setiap anak pasti akan punya rejeki tergantung orang tua nya sadar/tidak kalau rejeki itu buat anaknya. Bisa/tidak mengolah rejeki itu dan membuatnya bermanfaat, berkah dan barokah buat anak.
Beberapa saat kemudian, saya dapat mention begini “ rejeki jodoh hidup mati itu di tgn Allah.rejeki seret/gak itu smua Allah sdh atur.bgtu pun anak” qt..sdh ditulis takdirnya olehNya”
Seketika saya jadi bengong sambil rada emosi juga sih, soalnya niy orang ga kenal saya dan sebaliknya. Kok asal nyamber aja yah, pikir saya waktu itu.
Setelah puas bengong, saya tela’ah kembali topik tentang “banyak anak,banyak rejeki”. Saya tahu dan percaya rejeki, jodoh, hidup, mati di tangan Allah SWT dan sudah dituliskan takdirnya tapiiiii….. manusia juga punya akal sehat untuk berpikir, berhitung, berlogika. Harus dipikirkan baik-baik untuk punya anak, karena siapa pun orang tua, pasti berusaha memberikan yang terbaik kepada anak-anak, keturunannya.
Orang tua bisa menggunakan akal sehatnya untuk berpikir, menggunakan logika, mengukur seberapa jauh kemampuan saya menjadi orang tua yang sanggup memberikan yang terbaik bagi anak-anak keturunan saya. Saya musti melakukan apa saja supaya anak-anak keturunan saya bisa hidup layak dan mendapatkan yang sepantasnya
Jadi, janganlah asal melakukan pembenaran atas sebuah kalimat yang membawa nama Tuhan. Cobalah untuk merenungkan dulu, dipikirkan dulu kalimat tersebut. Merenungkan & memikirkan bukan untuk menyangkal tapi lebih kepada untuk mengajak otak kita berproses, memberi gambaran paling tidak untuk diri kita sendiri.
Manusia adalah makhluk yang diberi anugerah akal sehat, budi pekerti dan hati nurani…
Jadi manfaatkan lah anugerah itu… 🙂
Komentar
Posting Komentar