Menikah Kurva Normal…? at JUNE 30, 2012
Saya terheran-heran saat (lagi-lagi) teman dekat saya menuliskan “menikah kurva normal” di BBM. Wuidih! Apa pula ini! *Dah kayak orang batak aja* hehehehe…
Menurut teman dekat saya ini, menikah kurva normal adalah…. :
- Suami kerja kantoran + istri di rumah jaga anak, nungguin gaji suami yang jumlahnya stabil.
- Suami + istri kerja, anak nitip mertua, dengan pendapatan gaji yang stabil
Yang pertama, suami nya punya office hour nine to five, gajian tiap akhir/awal bulan dengan nominal yang sudah pasti tiap bulan. Si istri, jadi full time mother, ngurusin semua hal berbau rumah tangga, dari masak sampai urus anak, dari pagi sampai (bisa jadi) pagi lagi. Si istri tidak berpenghasilan, jadi nunggu transferan dari suami tiap akhir/awal bulan.
Yang kedua, suami dan istri bekerja, keduanya menghasilkan gaji yang jumlahnya stabil tiap bulan. Pasangan bekerja seringnya nitip anak-anak ke orang tua, bisa dari suami ataupun istri.
Kebetulan teman dekat saya ini bukan termasuk kedua tipe “menikah kurva normal” tadi jadi boleh dibilang beliau ini termasuk “menikah kurva tidak normal” dengan berbgai alasan dan keadaan
Menjalani pernikahan kurva tidak normal, buat sebagian pasangan terasa berat. Terutama di Indonesia. Mengapa…?
Menurut saya, lebih karena stereotip masyarakat Indonesia yang “mensyaratkan” kedua tipe “menikah kurva normal” tadi. Suami adalah kepala rumah tangga yang harus bekerja keras memenuhi semua kebutuhan keluarga. Istri adalah ibu yang harus mengasuh di rumah dan mengerjakan kegiatan rumah tangga.
Bagaimana jika situasinya dibalik, suami yang mengurus kegiatan rumah tangga sedangkan istri yang mencari nafkah? Istri sebagai breadwinner, ada yang salah…?
Bagi saya, tidak ada yang salah. Wanita & pria punya kemampuan yang sama untuk menjadi seorang breadwinner. Sepanjang suami-istri saling menyadari, memahami dan bisa menerima maka tidak akan jadi masalah. Nah, biasanya masalah akan muncul jika ada orang lain mulai gosok-gosok alias ngomporin biar meleduk terus kebakaran deh! Hehehe…dramatis banget yah… 😛
Istri sebagai breadwinner yang sedikit saya ulas, mungkin contoh ekstrem dari “menikah kurva tidak normal”. Saya yakin masih banyak contoh lain yang dialami oleh pasangan menikah. Semua pernikahan pasti tidak ada yang mudah, yang terpenting adalah menikmati setiap ketidakmudahan dalam pernikahan. Menikmati proses berarti menikamti hidup…
Nah…
Buat yang masih belum menikah, tanyakan pada diri sendiri, “Apakah saya siap dengan kategori menikah kurva tidak normal”?
Buat yang sudah menikah, musti sudah bisa mengkategorikan termasuk menikah kurva normal atau tidak normal.
Selamat menjawab… 🙂
Komentar
Posting Komentar